Petani Gresik Keluhkan Ancaman Gagal Panen Akibat Kemarau

GresikSatu | Musim kemarau dan panas ekstrem yang melanda Kabupaten Gresik selama beberapa pekan terakhir telah menyebabkan ribuan hektar lahan pertanian di wilayah ini terancam gagal panen.

Para petani di Kecamatan Balongpanggang kini menghadapi situasi yang semakin mengkhawatirkan.

Lahan pertanian mereka mulai kering dan retak, sementara tanaman padi yang baru memasuki masa tanam telah berubah warna menjadi kuning.

Kekurangan air membuat tanaman tidak tumbuh optimal, sehingga banyak petani cemas akan kemungkinan gagal panen.

Ajib Wibowo (60), petani asal Desa Wahas, Kecamatan Balongpanggang, mengandalkan air dari waduk untuk irigasi. Namun, dalam beberapa hari terakhir, waduk mengalami kekeringan.

“Tanaman rusak dan kemungkinan besar gagal panen karena warnanya mulai kuning dan belum tersiram karena waduk kering dan belum ada hujan,” ujarnya, Rabu (22/5/2024).

Baca juga:  Bantuan STB di Gresik Tak Tepat Sasaran, Orang Meninggal Malah Dapat Jatah

Untuk mengatasi kekurangan air, para petani di beberapa desa berupaya keras mendapatkan air irigasi, bahkan harus membeli air demi menjaga tanaman tetap hidup. Langkah ini membuat mereka mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan padi.

“Kami berharap pemerintah segera menormalisasi waduk atau membuat tanggul penampung air hujan, agar kekeringan bisa ditanggulangi dan pengairan di sekitar sini bisa teratasi,” lanjut Ajib.

Hal serupa dialami Yadi (59), petani dari Desa Tanahlandean, Kecamatan Balongpanggang. Ia mengaku harus merogoh kocek Rp 30 ribu untuk mendapatkan air irigasi.

“Ketika giliran air tiba, kami bisa tidak tidur sehari semalam, mengatur pembagian air di pematang sawah agar merata,” ungkapnya.

Sementara itu Koordinator Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Balongpanggang, Heri Suroso, menyatakan total lahan pertanian di Kecamatan Balongpanggang seluas 4.839 hektar, dan sekitar 1.500 hektar atau 30 persen di antaranya terancam gagal panen akibat musim kemarau.

Baca juga:  Pembagian Pupuk Subsidi di Manyar Sempat Ricuh, Penyebabnya Petani yang Tak Dapat Jatah Ikut Ambil Pupuk

“Kekeringan ini masih dalam kategori ‘Kemarau Sedang’. Jika hujan turun dan waduk terisi, masalah pengairan bisa pulih,” katanya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Dispentan) Kabupaten Gresik, Eko Anindito, menuturkan pihaknya telah melakukan beberapa langkah antisipasi, termasuk mengimbau petani untuk mengoptimalkan sumber air yang masih tersedia.

“Optimalkan sumber air baik dari sungai, waduk, maupun air tanah dengan pompa dan jaringan irigasi yang ada, serta berbudidaya tanaman hemat air,” ujarnya.

Diharapkan, langkah-langkah tersebut dapat membantu para petani mengatasi tantangan yang mereka hadapi selama musim kemarau ini.

Reporter:
Mifathul Faiz
Editor:
Aam Alamsyah
Rekomendasi Berita

Advertisement

Terpopuler