close
SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
Scroll untuk membaca artikel

Diguyur Hujan Selama 20 Menit, Empat Desa di Bawean Gresik Diterjang Banjir

GresikSatu | Empat desa di Sangkapura Bawean, Kabupaten Gresik, yakni Desa Sawahmulya, Kotakusuma, Patarselamat, dan Gunungteguh, dilanda banjir setelah diguyur hujan selama 20 menit pada Minggu (7/5/2023).

Kejadian ini memicu keresahan dan kekhawatiran warga setempat, mengingat beberapa fasilitas umum, jalan, dan rumah penduduk terendam air bercampur lumpur.

Menurut Abdul Hamid, seorang warga setempat, hujan yang turun pada pukul 12.30 WIB telah menimbulkan banjir di beberapa wilayah Kecamatan Sangkapura.

“Di Desa Sawahmulya, Dusun Dayabata, air sudah hampir setinggi perut, sehingga beberapa warga di sana bersiaga keluar rumah karena air mulai masuk ke pekarangan dan rumah mereka,” katanya.

Sedangkan di Desa Kotakusuma, Dusun Sawahdayah dan Bengkosobung, banyak area rumah tergenang air bercampur lumpur. Abdul Hamid mengungkapkan bahwa air di desa tersebut berasal dari gunung dan sungai yang mengalami pendangkalan.

Baca juga:  Banjir di Bawean Gresik Terjang Puluhan Rumah Warga

“Warga setempat sudah meminta Pemerintah Desa dan Kecamatan untuk membuat kajian tentang penanggulangan banjir ini, namun hingga saat ini tindak lanjut dari pihak berwenang masih minim,” jelasnya.

Di Desa Patarselamat, debit air sekitar 5 cm mulai masuk ke Balai Desa dan beberapa fasilitas umum setempat, seperti yang terjadi pada banjir awal tahun kemarin.

Sementara itu, di Desa Gunungteguh, wilayah dataran tinggi itu, beberapa sungai mengalami erosi di Dusun Menara desa setempat, bahkan beberapa material berupa batuan hamburan ke permukaan jalan.

Warga setempat merasa geram dan kecewa karena tidak adanya tindak lanjut dari Pemerintah baik di tingkat Kecamatan maupun Kabupaten dalam menanggulangi banjir.

Baca juga:  Peduli Bencana Bawean, SDN 6 Gresik Berikan Ratusan Bantuan Sembako¬†

“Pemerintah diharapkan dapat segera melakukan tindakan preventif seperti penyediaan alat deteksi mitigasi bencana di Desa, normalisasi sungai, atau memperbaiki fasilitas yang rusak,” jelasnya.

“Hal ini penting mengingat Desa yang menjadi wilayah hulu, harus menjadi salah satu prioritas dalam penanggulangan banjir,” tambahnya.

Selain itu, warga juga telah berinisiatif melakukan gotong royong dan patungan untuk menanggulangi banjir secara jangka panjang. Namun, mereka merasa bahwa banjir dan longsor masih dianggap sebagai hal yang biasa saja oleh pihak berwenang. (faiz/aam)

Advertisement