Ketupat, Asal usul Tradisi dan Filosofi

GresikSatu | Ketupat, makanan khas yang tak tergantikan pada tiap perayaan Hari Raya Idul Fitri, ternyata menyimpan asal usul yang kaya akan makna dan filosofi.

Dalam perjalanan sejarahnya, ketupat telah mengalami transformasi dari zaman Hindu-Buddha hingga masa kini.

Bukan hanya kaya akan makna, ketupat juga mempunyai nilai-nilai sejarah yang kental terutama sejarah masyarakat jawa.

Asal usul Ketupat

Dalam naskah-naskah kuno seperti Kakawin Kresnayana, Kidung Sri Tanjung, dan Kakawin Subadra Wiwaha, istilah “kupat,” “khupat-khupatan,” dan “akupat” muncul sebagai bagian dari budaya Jawa pada zaman Hindu-Buddha.

Ketupat diangkat dari tradisi pemujaan Dewi Sri, yang dikenal oleh masyarakat jawa sebagai dewi pertanian dan kesuburan.

Dewi Sri dulunya dipuja sebagai lambang kesuburan, dan ketupat menjadi simbol syukur kepada sang pencipta atas hasil panen yang melimpah.

Filosofi Ketupat

Kentalnya nilai sejarah dari hidangan ketupat menjadikanya kaya akan makna kehidupan dan filosofis yang menarik, diantaranya adalah

Ngaku Lepat

Beberapa ahli berpendapat bahwa “ketupat” adalah singkatan dari “ngaku lepat” dalam bahasa Jawa.

Baca juga:  Merayakan Tidak Pentingnya Diri

Artinya, ketupat melambangkan pengakuan kesalahan dan permintaan maaf. Seperti ketupat yang terbungkus daun janur, manusia juga harus mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri.

Janur dan Cahaya

Daun janur yang masih muda adalah perwujudan dari “sejatine nur” atau cahaya. Ini melambangkan kondisi manusia setelah mendapatkan pencerahan di bulan Ramadan.

Ketupat yang terbungkus daun janur mengajarkan kita untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Makna Ketupat

Ketupat bukan hanya sekadar hidangan wajib saat lebaran, tetapi juga makanan dengan makna hidup dan kesucian.

Nafsu Segi Empat

Makna dari kupat juga dapat diartikan sebagai “laku papat”, empat perilaku (nafsu) yang menjadi simbol dari bentuk segi empat dalam ketupat

Ke empat nafsu yang dimaksud adalah:

Amarah (Al Amarah)

Nafsu emosional yang sering mempengaruhi perilaku manusia untuk bertindak impulsif dan tidak bijaksana.

Rasa Lapar (Al Lawwamah)

Nafsu untuk memuaskan kebutuhan fisik, termasuk mengendalikan rasa lapar dan kufur atas nikmat yang didapatkan.

Baca juga:  Jenis Olahan Ikan Bandeng yang Bisa Disantap Saat Hari Raya Idul Fitri

Ketupat mengajarkan kita untuk mengendalikan rasa lapar dan bersyukur atas rezeki yang diberikan.

Keinginan Memiliki (Sufiah)

Nafsu untuk memiliki barang-barang yang mewah atau mengikuti tren.

Ketupat mengingatkan kita untuk tidak terlalu terpaku pada materi dan memahami nilai-nilai yang lebih penting.

Keinginan Menahan Diri (Mutmainah)

Nafsu untuk memaksa diri melakukan sesuatu, terkadang melebihi batas kewajaran.

Ketupat mengajarkan kita untuk menemukan keseimbangan dan tidak terlalu memaksakan diri.

Seseorang yang mengonsumsi ketupat dianggap telah berhasil mengendalikan keempat nafsu tersebut selama berpuasa.

Simbol Kesucian dan Kesederhanaan

Sunan Kalijaga, salah satu wali Islam di Jawa, memperkenalkan ketupat sebagai hidangan Lebaran.

Pada saat itu, masyarakat Jawa yang masih memeluk kepercayaan Kejawen menganggap ketupat adalah simbol kesucian dan kesederhanaan.

Saat anda menikmati ketupat di meja makan, ingatlah tradisi dan filosofi yang mengiringi nikmatnya ketupat.

Ketupat mengajarkan kita tentang kesederhanaan, pengakuan kesalahan, dan syukur atas hasil panen yang melimpah.

Reporter:
Hilda Azhura
Editor:
Ashadi Ihsan
Rekomendasi Berita

Advertisement

Terpopuler