Putar Musik Hingga Dini Hari, Warga Suci Gresik Larang Seluruh Cafe Adakan Live Musik

GresikSatu | Maraknya Cafe di Jalan Panggang yang mengadakan live musik hingga karaoke di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik membuat resah para warga sekitar.

Pasalnya cafe-cafe tersebut tidak peduli dengan kenyamanan warga dengan menyetel musik keras hingga pukul 3 dini hari.

Atas hal tersebut, seluruh Banom NU Ranting Suci mulai dari GP Ansor, Fatayat, IPNU-IPPNU, CBP-KPP, hingga Polri dan Satpol PP mendatangi pemilik cafe untuk memberikan surat imbauan larangan diadakan live musik dalam bentuk apapun.

Hal itu tertuang di Peraturan Desa Nomor 6 Tahun 2013 Tentang peraturan dan larangan Cafe di Desa Suci. Memperkuat pelaksanaan PerDes tersebut sejumlah cafe bahkan mendapatkan peringatan keras.

Baca juga:  HUT Golkar ke-58, Bupati Gresik Beri Hadiah 12 Motor dan 1 Mobil Operasional 

Dari pantauan Tim Gresiksatu.com, bahkan ada pegawai cafe yang memakai baju ketat dan menampilkan liuk tubuhnya sehingga membuat ibu-ibu semakin resah.

Sejumlah cafe yang didatangi diantaranya : Warung Pingpong, Gresik Seru, Kopi Panggang, Cliff, Cafe di area Pedukuhan, warung kopi di Jalan menuju Ganden, serta warung remang-remang menuju arah PPS.

Ketua Tanfidziyah NU Ranting Suci, Khoirul Huda mengatakan, bahwa aksi tersebut dilandasi karena keresahan masyarakat yang sudah tidak bisa terbendung lagi.

Hal ini dianggap meresahkan, karena banyaknya permintaan surat izin Cafe baru atau yang akan berdiri untuk mengadakan live musik di cafe tersebut.

“Dalam Peraturan Desa Nomor 6 Tahun 2013 sudah dijelaskan mengenai larangan Cafe di Desa Suci untuk menyediakan live musik, tapi masih saja dilanggar,” ungkapnya, Senin (25/12/2023).

Baca juga:  Begini Kondisi Mata Siswi di Gresik Setelah Dicolok Tusuk Bakso

Pria yang juga merupakan Anggota DPRD Gresik ini menambahkan, kedatangan tersebut dilakukan dengan damai sehingga tidak menimbulkan adu mulut atau perselisihan dengan pemilik cafe. Sejumlah pemilik bahkan menerima dengan baik serta menandatangani persetujuan.

“Bayangkan, untuk menertibkan segelintir cafe seperti ini saja sudah butuh tenaga ekstra. Gimana nantinya jika kita biarkan terus menerus dan satu per satu muncul di Desa Suci. Siapa lagi yang akan sadar hal itu sebelum kita warga Suci bertindak secepat mungkin,” tuturnya. (ovi/aam)

Rekomendasi Berita

Advertisement

Terpopuler