Kuliner Warisan Sunan Giri, Kolak Ayam Sanggring Gresik Terjaga Sejak 498 Tahun

GresikSatu | Di Gresik, malam ke 23 Ramadan selalu identik dengan tradisi Sanggring atau biasa kita kenal dengan kolak ayam Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.

Kolak Ayam Sanggring sudah berusia 498 tahun, Sanggring hadir menjadi warisan leluhur yang masih ada dan dikukuhkan sebagai WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) oleh Kemdikbud.

Tradisi Sanggring bermula Kanjeng Sunan Dalem atau Sunan Giri I sedang sakit dan tidak satu pun ditemukan obat mujarab yang sanggup menyembuhkan. Hingga dibuatlah ramuan kolak bercampur ayam.

Secara filosofis kata Sang berarti raja, dan Gring (Gering) berarti sakit. Sanggring bermakna obat untuk raja yang sakit. Makanan khas tersebut pertama kali ada pada 22 Ramadan 946 H atau 31 Januari 1540 M, tetap eksis dan dibudidayakan saat ini.

Baca juga:  Selain Nasi Krawu, Inilah Tiga Warisan Budaya Gresik yang Lebih Dulu Mendapatkan WBTB

Ketua Pelaksana Su’udin menuturkan sebanyak 3000 porsi takjil disediakan untuk para tamu yang datang di Masjid Jami’ Sunan Dalem Gumeno.

“Kami sediakan 3000 porsi takjil, 203 porsi full untuk para warga yang mendaftar, serta 157 porsi lainnya. Keseluruhan dana berasal dari Pemdes, sponshor, serta infaq warga,” tuturnya, Kamis (13/4/2023).

Makanan unik tersebut terdiri dari ketan, santan, jinten, bawang daun, gula merah, serta ayam kampung.

“Untuk kegiatan kali ini, kami sembelih 209 ekor ayam kampung jantan yang masih muda. Kami jaga orisinalitasnya mulai dari tanggal pelaksanaan, bahan, hingga para pembuat,” terangnya.

Kepala Desa Gumeno Hasan Fatoni mengungkapkan juru masak kolak ayam sanggring hanya dilakukan laki-laki sesuai dengan kisah Sunan Dalem masa itu.

Baca juga:  Inilah 5 Tradisi Khas Gresik Menjelang Lebaran, Apa Saja?

“Pada zaman dulu, Sanggring dibuat oleh santri laki-laki semua sesuai intruksi atau anjuran Sunan Dalem. Tapi sebenernya perempuan tidak masalah, kami menjaga tradisi leluhur yang sudah ada saja,” ungkapnya.

Biasanya, para tamu yang mengikuti semarak Sanggring di Masjid Sunan Dalem, akan bertandang ke rumah warga setempat dan disuguhi menu yang sama.

“Tradisi ini melayani tamu, dan melestarikan budaya. Semakin banyak tamu, semakin banyak pula sedekah. Harapannya tradisi ini akan selalu ada dan tak lelang zaman,” pungkasnya. (ovi/aam)

Rekomendasi Berita

Advertisement

Terpopuler