Sejarah dan Asal-usul Terciptanya Tradisi Pasar Bandeng Gresik

GresikSatu | Gresik memiliki banyak kekayaan sejarah dan budaya, salah satu yang masih tetap lestari dan menjadi potensi unggulan bagi masyarakat di Gresik adalah tradisi Pasar Bandeng.

Tradisi Pasar Bandeng di Gresik sudah berusia ratusan tahun, budaya tersebut sudah ada sejak dimulainya penyebaran agama Islam awal oleh Sunan Giri. Diadakan saat bulan Ramadan, tepatnya malam ke 25 hingga malam akhir bulan puasa.

Dalam Pasar Bandeng dibuatkan stan bederet sepanjang 3 KM. Mulai dari Jalan Gubernur Suryo (Multi Sarana Plaza), Pasar Krempyeng Depan Pasar Baru Gresik, Depan Pasar Kota Gresik, Jalan Samanhudi, Jalan Hos Cokroaminoto, Jalan Raden Santri dan Jalan Basuki Rahmat.

Adanya tradisi pasar bandeng juga tak lepas dari posisi Gresik sebagai daerah pesisir pantai. Teritorial laut memanjang mulai dari Kecamatan Kebomas, Gresik, Manyar, Bungah, Sidayu, Ujung Pangkah, Panceng serta kecamatan Sangkapura dan Tambak Bawean.

Sejarah dan Riwayat Pasar Bandeng di Gresik

Asal-usul terciptanya Pasar Bandeng Tradisional di Gresik bermula dari kebiasaan santri Sunan Giri menjelang Lebaran abad ke 15. Santri Sunan Giri yang berasal dari berbagai daerah, seperti dari Jawa, Ambon, Hitu, Makasar, Sumatera, Kalimantan serta kawasan kepulauan lainnya saat hendak melakukan mudik (pulang kampung) ke daerahnya masing- masing, selalu menyempatkan membawa oleh-oleh khas dari Gresik. Mulai dari ikan bandeng utuh, hingga berbagai olahan berbahan dasar bandeng.

Baca juga:  Inilah 5 Tradisi Khas Gresik Menjelang Lebaran, Apa Saja?

“Secara tidak langsung, banyaknya santri dan pedagang yang melakukan jual beli membentuk sebuah pasar, disebutlah Pasar Bandeng. Keramaian Pasar Bandeng semakin meriah dengan diadakan Kontes Bandeng Tradisional,” tulis Eko Jarwanto dalam bukunya berjudul Buku Gresik Punya Sejarah, Senin (17/4/2023).

Kontes Bandeng Tradisional atau dikenal dengan Bandeng Kawak merupakan sebuah ajang kompetisi petani tambak bandeng yang ada di Gresik untuk menunjukkan hasil perikanannya.

“Ikan primadona tersebut (Ikan Bandeng) menjadi ikan paling enak dan paling mahal. Gresik sangat terkenal dengan bandeng kawakan yakni bandeng yang dipelihara selama satu sampai dua tahun,” terangnya.

Peringatan Pasar Bandeng di Gresik merupakan agenda pembuka Kontes Bandeng, hanya diadakan setahun sekali selama tiga hari, berlangsung sampai larut malam dan selalu ramai oleh pengunjung.

Dalam puncak acara Kontes Bandeng, Ikan berukuran besar akan dibawa ke atas panggung untuk di timbang dan diukur. Bandeng yang paling besar, berat, dan tanpa cacat fisik dapat menerima hadiah senilai 5-20 juta.

Baca juga:  Memori Pasar Bandeng & Pasar Rakyat

Salah satu Budayawan Gresik tersebut menceritakan Kontes Bandeng Tradisional tahun 2015. Pelelangan hasil bumi berupa ikan bandeng dimenangkan oleh warga Mengare, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik dengan ukuran Bandeng Kawak seberat 9 Kg. Langsung dibeli oleh Wakil Gubernur Jawa Timur dengan harga Rp 5 juta.

“Diakui bahwa bandeng yang enak berasal dari Mengare, karena lokasi Mengare berdekatan dengan pantai sehingga bandeng tidak mengandung bau tanah dalam dagingnya, dengan kata lain lebih gurih,” pungkasnya.

Harga bandeng dipatok dengan angka mahal pada saat awal dibuka, penduduk asli Gresik asli biasanya akan keluar dari rumah sekitar jam 01:00- 02:00 dini hari hingga setelah shalat subuh, karena para penjual akan menurunkan harga ke arah normal, atau sedikit di atas harga normal.

Tradisi ditutup dengan melakukan bakar ikan bandeng dan pesta kembang api di Alun-alun Gresik dengan tujuan mempersatukan masyarakat Gresik dan menjaga tradisi Pasar Bandeng agar tetap lestari. Juga sebagai media untuk mempererat silaturrahmi seluruh unsur masyarakat dan memperkenalkan potensi wisata masyarakat Gresik ke khalayak umum. (ovi/aam)

Rekomendasi Berita

Advertisement

Terpopuler